Senin, 02 Desember 2013

82.40 Berbakti Kepada Kedua Orangtua




RIYADUSH SHALIHIN
DITAMAN ORANG-ORANG SHALIH






  
Berbakti Kepada Kedua Orangtua
Oleh Drs. St. Mukhlis Denros

Berbakti kepada kedua orangtua atau ”birrul walidain’’ dianjurkan oleh Allah Swt. Ia memerintahkan hal ini dan memuji sebagian Rasul-Nya yang telah berbakti kepada kedua orangtuanya, untuk itu Ia berfirman sehubungan dengan nabi Yahya As, ”Dan seorang yang berbakti kepada kedua orangtuanya, dan bukanlah ia seorang yang sombong lagi durhaka” [Maryam 19;14].

  "Seorang datang kepada Nabi Saw. Dia mengemukakan hasratnya untuk ikut berjihad. Nabi Saw bertanya kepadanya, "Apakah kamu masih mempunyai kedua orangg tua?" Orang itu menjawab, "Masih." Lalu Nabi Saw bersabda, "Untuk kepentingan mereka lah kamu berjihad." (Mutafaq'alaih).

           Nabi Saw melarangnya ikut berperang karena dia lebih diperlukan kedua orang tuanya untuk mengurusi mereka. Padahal jihad merupakan amal yang besar pahalanya bahkan wafat didalamnya dinnyatakan mati syahid, tapi ketika kondisi tertentu lebih utama menjaga orangtua.
           
 Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah Saw, ”Siapakah orang yang paling berhak ku baktikan diriku kepadanya?”, Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya kembali,”Kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ia bertanya lagi,”kemudian siapa lagi?” Rasulullah menjawab,”Ibumu”, ”Kemudian siapa lagi?”, Rasulullah menjawab,”Ayahmu”. [HR.Bukhari dan Muslim].

            Dari dialog sahabat dengan Rasulullah tersebut dinyatakan bahwa berbakti kepada orangtua adalah satu kewajiban yang harus ditunaikan seorang anak terutama kepada ibunya yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik dengan penuh kasih sayang. Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.".

Imam An Nawawi dalam bukunya Riyadush Shalihin Bab 40 dengan judulBerbakti Kepada Kedua Orangtua Dan Mempererat Keluarga”

Allah Ta'ala berfirman:"Dan sembahlah Allah serta jangan menyekutukan sesuatu denganNya. juga berbuat baiklah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang menjadi kerabat, tetangga yang bukan kerabat, teman seperjalanan, orang yang dalam perjalanan dan bambasahaya yang menjadi milik tangan kananmu." (an-Nisa': 36).

Allah Ta'ala berfirman pula:"Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan namaNya engkau semua saling menuntut hak dan peliharalah kekeluargaan." (an-Nisa': 1)
 "Orang-orang yang berakal ialah mereka yang memperhubungkan apa yang diperintahkan untuk diperhubungkan oleh Tuhan - yakni shilatur rahmi." (ar-Ra'ad: 21)
Allah Ta'ala berfirman lagi:"Dan Kami - Allah - berwasiat kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya." (al-Ankabut: 8).

Allah Ta'ala berfirman pula:"Dan Tuhanmu telah menentukan supaya engkau semua jangan menyembah melainkan Dia dan supaya engkau semua berbuat baik kepada kedua orangtua. Dan kalau salah seorang di antara keduanya atau keduanya ada di sisimu sampai usia tua, maka janganlah engkau berkata kepada keduanya dengan ucapan "cis", dan jangan pula engkau menggertak keduanya, tetapi ucapkanlah kepada keduanya itu ucapan yang mulia - penuh kehormatan. "Dan turunkanlah sayap kerendahan - maksudnya: Rendahkanlah dirimu - terhadap kedua orangtuamu itu dengan kasih-sayang dan katakanlah: "Ya Tuhanku, kasihanilah kedua orang tuaku itu sebagaimana keduanya mengasihi aku di kala aku masih kecil." (al-lsra': 23-24).

Juga Allah Ta'ala berfirman:"Dan Kami - Allah - berwasiat kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orangtuanya.  Ibunya telah mengandungnya dengan menderita kelemahan di atas kelemahan - yakni terus -menerus - dan ceraian susuannya dalam dua tahun. Hendaknya engkau bersyukur kepadaKu dan kepada kedua orangtuamu." (Luqman: 14)

Dari Abu Abdirrahman yaitu Abdullah bin Mas'ud r.a., katanya: Saya bertanya kepada Nabi s.a.w.: "Manakah amalan yang lebih tercinta disisi Allah?" Beliau menjawab: "Yaitu shalat menurut waktunya." Saya bertanya pula: "Kemudian apakah?" Beliau menjawab: "Berbakti kepada orang tua." Saya bertanya pula: "Kemudian apakah?" Beliau menjawab: "Yaitu berjihad fisabilillah." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Tidak cukuplah seseorang anak terhadap orangtuanya - sebagaimana imbangan jasa,kecuali apabila anak itu menemui orangtuanya sebagai hambasahaya, lalu membelinya kemudian memerdekakannya." (Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah menghubungi - mempereratkan - kekeluargaannya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau - jikalau tidak dapat - berdiam sajalah." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan seluruh makhluk, kemudian setelah selesai dari semuanya itu lalu rahim - kekeluargaan - itu berdiri terus berkata: "Ini adalah tempat orang yang bermohon kepadaMu - Tuhan - daripada perpisahan." Allah berfirman: "Ya, apakah engkau rela jikalau Aku perhubungkan orang yang menghubungimu - kekeluargaan - dan Aku memutuskan orang yang memutuskanmu?" Rahim menjawab: "Ya." Allah berfirman lagi: "Jadi keadaan yang sedemikian itu tetap untukmu - yang meng hubungi atau yang memutuskan."

Selanjutnya Rasulullah s.a.w. bersabda:"Bacalah jikalau engkau semua menghendaki - firman Allah yang artinya: "Apakah barangkali andaikata engkau semua berkuasa,  engkau  semua  akan   membuat  kerusakan  di   bumi  dan memutuskan ikatan kekeluargaan? Orang-orang yang sedemikian itulah yang dilaknat oleh Allah, kemudian ditulikan pendengarannya oleh Allah serta dibutakan penglihatannya." - Surah Muhammad: 22-23. (Muttafaq 'alaih).

Dari Abu Hurairah r.a. lagi, katanya: "Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w. lalu berkata: "Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk saya persahabati dengan sebaik-baiknya - yakni siapakah yang lebih utama untuk dihubungi secara sebaik-baiknya?" Beliau menjawab: "Ibumu." Ia bertanya lagi: "Lalu siapakah?" Beliau menjawab: "Ibumu." Orang itu sekali lagi bertanya: "Kemudian siapakah?" Beliau menjawab lagi: "Ibumu." Orang tadi bertanya pula: "Kemudian siapa lagi." Beliau menjawab: "Ayahmu." (Muttafaq 'alaih).

Dalam riwayat lain disebutkan:"Ya Rasulullah. Siapakah orang yang lebih berhak untuk dipersahabati - dihubungi - secara sebaik-baiknya?" Beliau menjawab: "Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu, lalu ayahmu, lalu orang yang terdekat denganmu, yang terdekat sekali denganmu."

Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. sabdanya: "Melekat pada tanahlah hidungnya, melekat pada tanahlah hidungnya, sekali lagi melekat pada tanahlah hidungnya - maksudnya memperoleh kehinaan besarlah - orang yang sempat menemui kedua orangtuanya di kala usia tua, baik salah satu atau keduanya,  tetapi orang tadi tidak dapat masuk syurga - sebab tidak berbakti  kepada orangtuanya." (Riwayat Muslim).

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya saya itu mempunyai beberapa orang kerabat, mereka saya hubungi - yakni saya pereratkan ikatan kekeluargaannya, tetapi mereka memutuskannya, saya berbuat baik kepada mereka itu, tetapi mereka berbuat buruk pada saya, saya bersikap sabar kepada mereka itu, tetapi mereka menganggap bodoh mengenai sikap saya itu." Kemudian beliau s.a.w. bersabda: "Jikalau benar sebagaimana yang engkau katakan itu, maka seolah-olah mereka itu engkau beri makanan abu panas -yakni mereka mendapat dosa yang besar sekali. Dan engkau senantiasa disertai penolong dari Allah dalam menghadapi mereka itu selama engkau benar dalam keadaan yang sedemikian itu." (Riwayat Muslim).
Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang ingin supaya diluaskan rezekinya dan diakhirkan ajalnya, maka hendaklah mempereratkan ikatan kekeluargaannya." (Muttafaq 'alaih) Makna Yunsa-alahu fi atsarihi yaitu diakhirkan ajalnya yakni diperpanjangkan usianya.

Dari Anas r.a. pula, katanya: "Abu Thalhah adalah seorang dari golongan kaum Anshar di Madinah yang banyak hartanya, terdiri dari kebun kurma. Di antara harta-hartanya itu yang paling dicintai olehnya ialah kebun kurma Bairuha'. Kebun ini letaknya menghadap masjid - Nabawi di Madinah. Rasulullah s.a.w. suka memasukinya dan minum dari airnya yang nyaman. Ketika ayat ini turun, yang artinya: "Engkau semua tidak akan memperoleh kebajikan sehingga engkau semua suka menafkahkan dari sesuatu yang engkau semua cintai," maka Abu Thalhah berdiri menuju ke tempat Rasulullah s.a.w., lalu berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman:
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ
(ali-lmran: 92)

Padahal hartaku yang paling saya cintai ialah kebun kurma Bairuha', maka sesungguhnya kebunku itu saya sedekahkan untuk kepentingan agama Allah Ta'ala. Saya mengharapkan kebajikan serta sebagai simpanan - di akhirat - di sisi Allah. Maka dari itu gunakanlah kebun itu ya Rasulullah, sebagaimana yang Allah memberitahukan kepada Tuan. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Aduh, yang sedemikian itu adalah merupakan harta yang banyak keuntungannya - berlipat ganda pahalanya bagi yang bersedekah, yang sedemikian itu adalah merupakan harta yang banyak keuntungannya."Saya telah mendengar apa yang engkau ucapkan dan sesungguhnya saya berpendapat supaya kebun itu engkau berikan kepada kaum keluargamu - sebagai sedekah."

Abu Thalhah berkata: "Saya akan melaksanakan itu, ya Rasulullah." Selanjutnya Abu Thalhah membagi-bagikan kebun Bairuha' itu kepada keluarga serta anak-anak pamannya." (Muttafaq 'alaih).

Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Ada seorang lelaki menghadap Nabi s.a.w. lalu berkata: "Saya berbai'at kepada Tuan untuk ikut berhijrah serta berjihad yang saya tujukan untuk mencari pahala dari Allah Ta'ala." Beliau bertanya: "Apakah salah seorang dari kedua orangtuamu itu masih ada yang hidup?" Orang itu menjawab: "Ya, bahkan keduanya masih hidup." Beliau bersabda: "Apakah maksudmu hendak mencari pahala dari Allah Ta'ala?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Kalau begitu kembali sajalah ke tempat kedua orangtuamu, lalu berbuat baiklah dalam mengawani keduanya itu."(Muttafaq 'alaih).

"Ada seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w. lalu memohon izin kepada beliau untuk ikut berjihad, lalu beliau bersabda: "Adakah kedua orangtuamu masih hidup?" Ia menjawab: "Ya." Lalu beliau s.a.w. bersabda: "Kalau begitu, berjihadlah dalam kedua orangtuamu itu - dengan berbuat baik dan memuliakan keduanya itu."

Dari Abdullah bin Amr bin al-'Ash r.a. pula dari Nabi s.a.w., sabdanya:
"Bukannya orang yang menghubungi - mempererat kekeluargaan - itu dengan orang yang mencukupi - yakni yang sama-sama menghubunginya, tetapi orang yang menghubungi itu ialah orang yang apabila keluarganya itu memutuskan ikatan kekeluargaannya, lalu ia suka menghubunginya - menyambungnya kembali." (Riwayat Bukhari)

 Dari Zainab as-Tsaqafiyah iaitu isteri Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu wa'anha, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bersedekahlah engkau semua, hai kaum wanita dari perhiasan-perhiasanmu." Zainab berkata: "Saya lalu kembali ke tempat Abdullah bin Mas'ud, lalu saya berkata: "Sesungguhnya engkau ini seorang lelaki yang ringan tangannya - maksudnya dalam keadaan kurang harta, dan sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah memerintahkan kita untuk memberikan sedekah. Maka datanglah engkau kepada beliau dan tanyakanlah, jikalau sekiranya yang sedemikian itu mencukupi daripadaku, maka akan saya berikan saja padamu maksudnya ialah jikalau hartaku sendiri ini boleh diberikan kepada sesama keluarga, tentu lebih baik untuk kepentingan keluarga saja. Tetapi jikalau tidak mencukupi yang sedemikian itu - yakni tidak boleh kepada keluarga sendiri, maka akan saya berikan kepada orang lain."
Abdullah - suaminya - berkata: "Bahkan engkau saja yang datang pada beliau."
Kemudian saya - Zainab - berangkat, tiba-tiba ada seorang wanita dari kaum Anshar yang sudah ada di pintu Rasulullah s.a.w., sedang keperluanku sama benar dengan keperluannya.

Rasulullah s.a.w. itu besar sekali kewibawaan yang ada padanya. Kemudian Bilal keluar menemui kita, lalu kita berkata: "Datanglah kepada Rasulullah s.a.w., kemudian beritahukanlah bahawasanya ada dua orang wanita sedang menanti di pintu untuk bertanya kepada Tuan: "Apakah sedekah itu mencukupi, jikalau diberikan saja kepada suami-suaminya serta anak-anak yatim yang ada dalam tanggungannya? Tetapi janganlah diberitahukan siapa kita yang datang ini!" Bilal lalu masuk kepada Rasulullah s.a.w., kemudian menanyakan soal di atas itu. Rasulullah s.a.w. bertanya: "Siapakah kedua orang itu?" Bilal menjawab: "Seorang wanita dari kaum Anshar dan yang seorang Zainab." Rasulullah s.a.w. bertanya: "Zainab yang mana - sebab nama Zainab banyak." Bilal menjawab: "Zainab isteri Abdullah." Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Kedua wanita itu mendapatkan dua pahala -jikalau diberikan kepada keluarganya sendiri, yaitu pahala karena kekeluargaan dan pahala sedekahnya." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Sufyan yaitu Shakhr bin Harb r.a. dalam Hadisnya yang panjang perihal kisahnya Hercules, bahawasanya Hercules berkata kepada Abu Sufyan: "Dia menyuruh apakah kepadamu semua?" - yang dimaksudkan ialah Nabi s.a.w. Abu Sufyan menjawab: Saya lalu berkata: "Nabi itu mengucapkan demikian: "Sembahlah Allah yang Maha Esa dan jangan menyekutukan sesuatu denganNya.Juga tinggalkanlah apa-apa yang diucapkan oleh nenek moyangmu - tentang i'tikad yang salah-salah.Dia menyuruh pula kepada kita supaya kita melakukan shalat, berkata benar, menahan diri dari menjalankan keharaman serta mempererat kekeluargaan."(Muttafaq 'alaih)

 Dari Abu Hurairah r.a. katanya: "Ketika ayat ini turun yaitu yang artinya: Dan berilah peringatan kepada kaum keluarga-mu yang dekat-dekat - as-Syu'ara' 214, lalu Rasulullah s.a.w. mengundang kaum Quraisy, kemudian merekapun berkumpullah, undangan itu ada yang secara umum dan ada lagi yang khusus, lalu beliau bersabda: "Hai Bani Ka'ab bin Luay, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Murrah bin Ka'ab, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Abdu Syams, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Abdu Manaf, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Hasyim, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Bani Abdul Muththalib, selamatkanlah dirimu semua dari neraka. Hai Fathimah - puteri Rasulullah s.a.w., selamatkanlah dirimu dari neraka, karena sesungguhnya saya tidak dapat memiliki sesuatu untukmu semua dari Allah - maksudnya saya tidak dapat menolak siksa yang akan diberikan oleh Allah padamu, jikalau engkau tidak berusaha menyelamatkan diri sendiri dari neraka. Hanya saja engkau semua itu mempunyai hubungan kekeluargaan belaka - tetapi ini jangan diandal-andalkan untuk dapat selamat di akhirat. Saya akan membasahinya dengan airnya." (Riwayat Muslim).

Dari Abu Ayyub, iaitu Khalid bin Zaidal-Anshari r.a. bahwa ada seorang lelaki berkata: "Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada saya suatu amalan yang dapat memasukkan saya ke dalam syurga." Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: "Engkau supaya menyembah kepada Allah dan janganlah engkau menyekutukan sesuatu denganNya, juga supaya engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mempererat ikatan kekeluargaan." (Muttafaq 'alaih)

Dari Salman bin 'Amir r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:"Jikalau seseorang dari engkau semua itu berbuka, maka berbukalah atas kurma, sebab sesungguhnya kurma itu ada berkahnya, tetapi jikalau tidak menemukan kurma, maka hendaklah berbuka atas air, sebab sesungguhnya air itu suci."
Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda:"Bersedekah kepada orang miskin adalah memperoleh satu pahala sedekah saja, tetapi kepada - orang miskin - yang masih ada hubungan kekeluargaan, maka memperoleh dua kali, iaitu pahala sedekah dan pahala mempereratkan kekeluargaan." Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, katanya: "Di bawah saya ada seorang wanita - maksudnya: Saya mempunyai seorang isteri - dan saya mencintainya, sedangkan Umar - ayahnya  membencinya, lalu Umar berkata kepadaku: "Ceraikanlah isterimu itu!" sedang saya enggan melakukannya. Umar lalu mendatangi Nabi s.a.w. kemudian menyebutkan keadaan yang sedemikian itu, maka Nabi s.a.w. bersabda: "Ceraikanlah wanita itu." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Dari Abuddarda' r.a. bahwasanya ada seorang lelaki datang kepadanya: "Sesungguhnya saya mempunyai seorang isteri dan sesungguhnya ibuku menyuruh kepadaku supaya aku menceraikannya." Kemudian Abuddarda' berkata: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Orangtua adalah pintu yang paling tengah di antara pintu-pintu syurga." Maka jikalau engkau suka, buanglah pintu itu - tidak perlu mengikuti perintahnya atau tidak berbakti padanya, tetapi ini adalah dosa besar, atau jagalah pintu tadi - dengan mengikuti perintah dan berbakti dan ini besar pahalanya." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis shahih.

Berbakti kepada orangtua banyak manfaatnya, diantaranya dapat menebus dosa yang dilakukannya sebagaimana hadits berikut ini, ”Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah lalu bertanya, ”Sesungguhnya aku telah melakukan suatu dosa besar, apakah ada taubat bagiku?” Nabi balik bertanya, ”Apakah engkau mempunyai ibu?”, lelaki itu menjawab, ”Tidak ada”, apakah engkau mempunyai bibi ? tanya Rasul. Ia menjawab, ”Iya punya”, Maka berbaktilah kepadanya”, kata Rasulullah” [HR. Turmuzi].

            Dari beberapa ayat dan hadits diatas memang keberadaan anak di dunia ini harus mempersembahkan sesuatu kepada kedua orangtuanya, bukan sembahan berupa materi, kemewahan dan bukan pula pangkat serta kejayaan, tapi persembahan; memperlakukan orangtua dengan santun, penuh kasih sayang dan penuh perhatian, tanpa perantara mereka mustahil kita dapat hadir menikmati hidup ini.

            Kita melihat sirah Rasulullah dan para sahabatnya, pituah Rasulullah wajib diikuti oleh setiap muslim. Memang ada seorang sahabat yang datang menceritakan bagaimana orangtua memperlakukannya dengan kejam, kasar dan tidak manusiawi, tapi Rasulullah memberi jawaban bahwa seorang anak tetap harus menunjukkan santun dan baktinya kepada orangtua, walaupun dahulu orangtuamu memperlakukanmu dengan buruk, bahkan mungkin dahulu kamu diiris-iris dengan pisau sekalipun. Wallahu A’lam, [Cubadak Pianggu Solok, 04 Zulqaidah 1434.H/09 September 2013].

 


81.39 Hak Tetangga





RIYADUSH SHALIHIN
DITAMAN ORANG-ORANG SHALIH





                
Hak Tetangga
Oleh Drs. St. Mukhlis Denros

Kualitas hubungan kita dengan tetangga adalah cermin diri kita. Jika hubungan dengan tetangga buruk, kita buruk. Jika baik, kita baik. Hal ini pernah ditanyakan Abdullah bin Mas’ud kepada Rasululllah saw. “Bagaimana saya dapat mengetahui bahwa saya telah berbuat baik dan berbuat buruk?” Rasulullah saw. menjawab, “Apabila engkau mendengar tetanggamu mengatakan bahwa engkau berbuat baik, maka engkau telah berbuat baik. Dan apabila engkau mendengar mereka berkata bahwa engkau berbuat jahat, maka engkau telah berbuat jahat.” (Ibnu Majah).

Jadi, jangan sampai tetangga kita memberi kesaksian yang buruk kepada kita. Perhatikanlah sampah rumah kita, jangan sampai dibuang ke pekarangan mereka. Jangan keraskan suara radio kita hingga mengganggu tidur tetangga. Jangan biarkan anak-anak Anda memamerkan mainan barunya yang membuat anak tetangga Anda iri sementara orang tua mereka tidak mampu membelikan. Tentu ini sangat menyakitkan hati mereka. Masih banyak lagi perbuatan yang harus kita jaga agar tidak menyakiti tetangga. Ketahuilah, mereka akan bersaksi tentang semua perangai kita di harapan Allah kelak! [Tetangga: Satu Pintu Surga Bagi Kita, alhikmah.ac.id].

Tetangga kita mempunyai hak atas diri kita atau sesuatu yang harus kita berikankepadanya atau yang harus kita terima darinya. Agama Islam banyak menerangkanhak tetangga yang seharusnya dikerjakan oleh pemeluknya.Pertama, Abul Laist As-Samarqandi meriwayatkasn dengan sanadnya dari Adbdullahbin Mas'ud, berkata Rasulullah Saw:Artinya: "Demi dzat yang aku berada di dalamnya, tidaklah Islam seorang hamba sehingga selamat orang dari gangguan hati dan dan tangannya, dan tidak beriman seorang hamba sehingg tetanggany  aman dari gangguannya Sahabat bertanya apakah gangguan gangguanya itu ya Erasululah Jawab nabi "tipuan dan aniaya".

Abul Laits As Samarqandi meriwaywtkan dengan sanadnya dari al has dan albahri berkata Rasulullah bertanya "Apakah hak tetangga terhadap tetangganya ? Jawab nabi " jika kau hutangi, jika mengundang kau datangi, jika tertimpa musibah, kau hibur, jika mendapat keuntungan / kenangan kau beri selamat, jika mati kau antar jenazahnya, jika pergi kau jagakan rumah dan anak anaknya, dan jangan kau mengganggunya dengan bau masakanmu kecuali kau berikan hadiyah dari masakanmu kepadanya .[KH. Drs. Imam Badr, Hak Tetangga].

Imam An Nawawi dalam bukunya Riyadush Shalihin Bab 39 dengan judul Hak Tetangga Dan Berwasiat Dengannya”
Allah Ta'ala berfirman:"Dan sembahlah Allah serta jangan menyekutukan sesuatu denganNya. Juga berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman seperjalanan, sepekerjaan, sesekolah dan lain-lain - orang yang dalam perjalanan dan - lalu kehabisan bekal -hambasahaya yang menjadi milik tangan kananmu."  (an-Nisa': 36).

Dari Ibnu Umardan Aisyah radhiallahu 'anhuma, keduanya berkata: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak henti-hentinya Jibril memberikan wasiat kepadaku supaya berbuat baik kepada tetangga, sehingga saya menyangka seolah-olah Jibril akan memasukkan tetangga sebagai ahli waris -yakni dapat menjadi ahli waris dan tetangganya." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Zar r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai Abu Zar, jikalau engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan saling berjanjilah dengan tetangga-tetanggamu - untuk saling beri-memberikan." (Riwayat Muslim).

Dalam riwayat Imam Muslim lainnya, juga dari Abu Zar, katanya: "Kekasihku s.a.w. berwasiat padaku demikian: "Jikalau engkau memasak kuah, maka perbanyakkanlah airnya, kemudian lihatlah keluarga dari tetangga-tetanggamu, lalu berilah mereka itu dengan baik-baik."

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
"Demi Allah, tidaklah beriman; demi Allah, tidaklah beriman; demi Allah, tidaklah beriman!" Beliau s.a.w. ditanya: "Siapakah, ya Rasulullah." Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu orang yang tetangganya tidak aman akan kejahatannya - tipuannya." (Muttafaq 'alaih)
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan:
Nabi s.a.w. bersabda: "Tidak akan masuk syurga orang yang tetangganya itu tidak akan aman akan kejahatannya - tipuannya."

Dari Abu Hurairah r.a. pufa, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Hai wanita-wanita muslimat, janganlah seseorang tetangga itu menghinakan kepada tetangganya yang lain, sekalipun yang dihadiahkan itu berupa kaki kambing." [1][32] (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasannya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Janganlah seseorang tetangga itu melarang tetangganya yang lain untuk menancapkan kayu di dindingnya -untuk pengokoh atap dan lain-lain."

Abu Hurairah r.a. lalu berkata: "Mengapa engkau semua saya lihat tampaknya menentang dari sunnah - peraturan Nabi s.a.w. -ini? Demi Allah, niscayalah akan saya lemparkan sunnah itu antara bahu-bahumu - maksudnya: Saya paksakan untuk diterimanya, sekalipun tampaknya berat dilakukan." (Muttafaq 'alaih)

Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah menyakiti tetangganya - baik dengan kata-kata atau perbuatan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau - kalau tidak dapat berkata baik - maka hendaklah berdiam saja - yakni jangan malahan berkata yang tidak baik." (Muttafaq 'alaih).

Dari Abu Syuraih al-Khuza'i r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berbuat baik kepada tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah memuliakan tamunya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau hendaklah berdiam saja."

Hadis di atas, juga yang ada di bawahnya itu, mengandung pengertian bahwa jika kita ingin dianggap sebagai seorang mu'min yang benar-benar sempurna keimanannya, maka tiga hal ini wajib kita laksanakan dengan baik.

1.      Jangan menyakiti tetangga, tetapi hendaknya berbuat baik kepadanya, termasuk di dalamnya tetangga yang dekat atau yang jauh, ada hubungan kekeluargaan atau tidak, juga tanpa pandang apakah ia seorang Muslim atau kafir. Ringkasnya semua diperlakukan sama dalam soal ketetanggaan.

2.      Memuliakan tamu, baik yang kaya ataupun yang miskin, yang sudah kenal atau belum, kenalnya sudah lama atau baru saja bertemu dan berkenalan, seagama ataupun tidak dan  lain-lain, bahkan musuhpun katau datang ke tempat kita, wajib pula kita muliakan sebagai tamu. Cara memuliakannya ialah dengan jalan menampakkan wajah yang manis, berseri-seri di mukanya, berbicara dengan sopan, menyatakan gembira atas kedatangannya dan segera memberikan jamuan sepatutnya bilamana ada, tanpa memaksa-maksakan diri atau mengada-adakan, sehingga berhutang dan lain-lain.

3.      Kalau dapat mengeluarkan kata-kata yang baik, itulah yang sebagus-bagusnya untuk dijadikan bahan percakapan. Tetapi jika tidak dapat berbuat sedemikian, lebih baik berdiam diri saja.

Dalam mengulas sabda Rasulullah s.a.w. yang terakhir ini. Imam as-Syafi'i r.a. berkata: "Jadi hendaknya difikirkan sebelumnya perihal apa yang hendak dikatakan itu. Manakala memang baik untuk dikeluarkan, maka yang terbagussekali ialah berkata-kata yang baik tersebut. Maksudnya kata-kata yang baik ialah yang tidak akan menyebabkan timbulnya kerusakan atau permusuhan, serta tidak pula akan menjurus ke arah pembicaraan yang diharamkan oleh syariat ataupun dimakruhkan. Inilah yang dianggap sebagai kata-kata yang memang betul-betul baik. Tetapi sekiranya akan membuat keonaran, permusuhan dan kekacauan atau akan menjurus kepada pembicaraan yang keruh, apalagi yang haram, maka di situlah tempatnya kita tidak boleh berbicara dan lebih baik berdiam diri saja."

Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya saya itu mempunyai dua orang tetangga, maka kepada yang manakah di antara keduanya itu yang saya beri hadiah? "Rasulullah s.a.w. menjawab: "Kepada yang terdekat  pintunya denganmu." (Riwayat Bukhari)

Dari Abdullah bin Amr radhiallahu 'anhuma, katanya: ''Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sebaik-baiknya kawan di sisi Allah Ta'ala ialah yang terbaik Kubungannya dengan kawannya dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah Ta'ala ialah yang terbaik pergaulannya dengan tetangganya." Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Memiliki tetangga yang baik dan mau hidup rukun dengan kita merupakan satu kenikmatan hidup. Namun terkadang, kita diuji Allah dengan memiliki tetangga yang tidak baik akhlaknya dan gemar mengganggu kita. Untuk menghadapi tetangga semacam itu, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu memberikan beberapa nasehatnya, sebagai berikut:
• Bersabarlah anda dalam menghadapi gangguan tetangga. Atau memilih pindah rumah jika memang hal itu memungkinkan. Allah berfirman. “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. [Fushilat : 34]

Membalas kejahatan tetangga dengan perbuatan baik merupakan salah satu etika bertetangga yang diajarkan Islam. Yaitu agar kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan yang sama, Al Hasan al Bashri berkata, "Tidaklah berbuat ihsan kepada tetangga (hanya dengan) menahan diri tidak menyakiti tetangga, akan tetapi berbuat ihsan kepada tetangga (juga) dengan bersabar dan tabah menghadapi gangguannya".[ Jami’ul ‘Ulum wal Hikam ].

• Hendaklah anda berdoa dengan sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu. “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari tetangga yang buruk di akhirat, maka sesungguhnya tetangga badui beganti-ganti. [HR. Bukhari ]

• Jika anda tidak mampu bersabar menghadapi gangguan tetangga, sementara tidak mungkin bagi anda untuk pindah rumah, maka terapkan nasehat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dikisahkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu. “Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi mengeluhkan tetangganya. Maka Rasulullah menasehatinya,"Pulanglah dan bersabarlah". Lelaki itu kemudian mendatangi Nabi lagi sampai dua atau tiga kali, maka Beliau bersabda padanya,"Pulanglah dan lemparkanlah barang-barangmu ke jalan". Maka lelaki itu pun melemparkan barang-barangnya ke jalan, sehingga orang-orang bertanya kepadanya, ia pun menceritakan keadaannya kepada mereka. Maka orang-orang pun melaknat tetangganya itu. Hingga tetangganya itu mendatanginya dan berkata,"Kembalikanlah barang-barangmu, engkau tidak akan melihat lagi sesuatu yang tidak engkau sukai dariku.[ HR Abu Daud].[Dikutip dengan sedikit  edit dari judul tulisan Bertetangga Yang Sehat Dan Kiat Menghadapi Tetangga Jahat, Almanhaj.or.id Selasa, 10 Mei 2011 22:33:23 WIB].

Kemanapun kita pergi untuk menghindari tetangga maka pasti kita akan bertemu lagi dengan tetangga lain karena tidak ada satu tempatpun di dunia ini yang kita jadikan sebagai tempat tinggal, tempat bekerja, tempat berlibur, tempat beribadah, disana pasti ada tetangga, maka sebelum menemukan tetangga yang baik selayaknya bila kita memperbaiki dahulu kepribadian kita sehingga diakui oleh tetangga kalau kita memang orang yang baik, kalau  mereka sudah tahu kita punya kepribadian yang baik yaitu berkepribadian islami maka pasti mereka tidak mau bila kita pindah ke tempat lain dengan tetangga baru, walaupun terpaksa kita harus pindah ke tempat yang jauh maka tetangga kita pasti akan tetap menjalin hubungan baik dengan kita, dia mengakui bahwa kita dahulu adalah tetangganya, sunnah Rasul dan Al Qur’an mengajarkan cara terbaik untuk berinteraksi dengan tetangga, siapapun juga mengamalkan hal ini akan memperoleh keuntungan di dunia dan akherat, wallahu ‘alam,  [Cubadak Pianggu Solok, 05 Zulqaidah 1434.H/10 September 2013].